Tuesday, May 11, 2010

Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi


Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli
membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan,
tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti
ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata
Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah
dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan
karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang
dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan
menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin
berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di
atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah,
tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang
terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan
dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !
“katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal
satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu
orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di
kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim
oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah
kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat
di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang
tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan
dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah
tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah
orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa
pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais
al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang
tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba
dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman
mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.

Sunday, April 11, 2010

BARISAN NERAKA

Barisan Neraka

on Friday, April 9, 2010
Suatu ketika, Muaz bin Jabal r.a. menghadap Rasulullah S.A.W. dan bertanya kepada baginda:

“Wahai Rasulullah S.A.W., tolong huraikan kepadaku mengenai firman Allah S.W.T” Erti firmanNya;

“Pada sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris” (Surah al-Naba’) Mendengar pertanyaan ini, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab;

“Wahai Muaz, engkau telah bertanyakan kepadaku perkara yanag amat besar bahawa umatku masing-masing dengan pembawaan diri mereka sendiri.” Maka Rasulullah menyatakan setiap barisan yang sebanyak 12 barisan.

BARISAN PERTAMA

Diiringi dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih;

“Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati jirannya. Maka demikian balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KEDUA

Diiringi dari kubur dalam berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih;

“Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan solat. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KETIGA

Mereka berbentuk keldai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking.

“Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KEEMPAT

Diiringi dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancutan keluar dari mulut mereka.

“Mereka adalah orang yag berdusta di dalam jual beli. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka

BARISAN KELIMA

Diiringi dari kubur dengan bau busuk daripada bangkai. Ketika itu,Allah S.W.T. menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar.

“Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan derhaka kerana takut diketahui manusia,tetapi tidak pula rasa takut kepada Allah S.W.T. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KEENAM

Diiringi dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan.

“Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KETUJUH

Diiringi dari kubur tanpa mempunyai lidah dari mulut mereka mengalir nanah dan darah.

“Mereka itu adalah orang yang enggan member kesaksian di atas kebenaran. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KELAPAN

Diiringi dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas.

“Mereka adalah orang yang berbuat zina. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka.”

BARISAN KESEMBILAN

Diiringi dari kubur dengan wajah hitam gelap dan bermata biru sementara di dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh.

"Mereka adalah orang yang memakan harta anak yatim dengan cara yang tidak sepatutnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka."

BARISAN KESEPULUH

Diiringi dari kubur dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan sopak dan kusta.

"Mereka adalah orang yang derhaka kepada ibu bapa. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka."

BARISAN KESEBELAS

Diiringi dari kubur dalam keadaan buta mata kepala,gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terlanjur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran.

"Mereka adalah orang yang meminum arak. Maka inilah balsannya dan tempat kembali mereka adalah neraka."

BARISAN KEDUA BELAS

Mereka diiringi dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka datang suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan;

"Mereka adalah orang yang banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan derhaka, memelihara solat, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat. Maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat keampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih

Tuesday, March 9, 2010

Ceramah Tokoh Ilmuan Ikon Masyarakat -Vol 1



Program penerangan merupakan satu agenda penting dalam dakwah. Atas semangat ini saya dan rakan dari Exco Kerohanian JPP IPG Kampus Darulaman merangka satu program ceramah tentang tokoh ilmuan. Walaupun masa yang agak terbatas dengan bertindihan dengan program besar institut iaitu Kejohanan Olahraga Tahunan namun program dapat berjalan dengan lancar

Penceramah jemputan yang merupakan pensyarah daripada POLIMAS iaitu Ustaz Mohd Nasir Bin Zain yang merupakan penuntut Universiti Azhar pada satu ketika dahulu memberikan input yang cukup berkesan.

Dua Tokoh Islam yang dibawa ialah Imam Al-Ghazali dan As-Syahid Imam Hasan Al-Banna.

Saya tertarik dengan kezuhudan Imam Al-Ghazali dalam menuntut ilmu dimana ketika beliau bermusafir rombongan beliau telah diserang oleh sekumpulan perompak. Habis Kelengkapan dirampas dan diminta untuk dikeluarkan apa sahaja yang ada pada diri mereka. Apabila sampai sahaja giliran Imam Al--Ghazali beliau telah memberikan semua yang dimilki kecuali sehelai kain yang mana disitu ada dicatat ilmu ilmu yang didapatinya sebelum ini. Dengan sindirin yang tajam perompak tersebut berkata

" kalaulah kain ini hilang tentu sekali segala ilmu yang engkau dapati akan turut hilang"

tersentak Imam Al-Ghazali mendengar akan kata-kata perompak tersebut dan semenjak dari peristiwa tersebut Imam Al-Ghazali telah mengubah cara pembelajaran beliau dengan menghafal setiap apa yang didapati oleh Tok Guru beliau.

Masyaallah begitulah hebatnya Ilmuan terdahulu kata-kata perompak juga dijadikan panduan sekiranya perkara itu benar.

Antara gambar yang sempat di


Ustaz Mohd Nasir Bin Zain

Menjamu selera bersama dari kiri Thoha, saya, Abg Soleh dan Nuruddin

Bersama teman-teman dari kiri Shahril, Thoha, Aza dan saya.

Saturday, February 27, 2010

Maulidur Rasul Kembali Lagi



Kita kini sedang menyambut ketibaan bulan Rabiul Awwal yang telah mencatatkan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Di mana apabila tibanya bulan Rabi’ulawwal setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia sama-sama mengingati tarikh kelahiran junjungan besar nabi Muhammad S.A.W. Kelahiran dan kebangkitan junjungan besar nabi Muhammad S.A.W sebagai rasul akhir zaman telah membawa sinar bahagia kepada manusia dan rahmat kepada seluruh alam yang selama ini tenggelam dalam kejahilan dan hidup bermusuhan antara satu sama lain.
Maulidur Rasul

Yang kuat memerintah yang tidak berdaya, yang kaya memeras yang miskin, yang gagah menindas yang lemah, undang-undang terletak pada pandangan nafsu dan bukannya berdasarkan wahyu sehingga hidup manusia bercelaru hilang pedoman dan tempat rujukan untuk berlindung.

Sejarah telah mencatatkan kisah perjalanan pahit maung kehidupan Rasulullah S.A.W. di dalam tugasnya menyebarkan dakwah Islam yang mulia ini, baginda pernah dikeji, dihina, diugut, dibaling dengan batu sehingga berdarah, dipulau kaum keluarganya namun untuk meninggalkan amanah Allah ini tidak sekali-kali terlintas di dalam jiwanya.

Justeru, Rasulullah S.A.W. yang diutuskan kepada umat manusia sebagai penghulu segala rasul, wajib kita sama-sama mentaatinya, dengan erti kata melaksanakan segala perintahnya dan meninggalkan segala tegahannya. Mudah-mudahan kita beroleh kecemerlangan dan kegemilangan hidup di dunia dan di akhirat.

Firman Allah dalam surah al-Hasyr ayat 7:

Maksudnya : “Dan apa jua suruhan yang di bawa oleh Rasulullah kepada kamu maka ambillah akan ia serta amalkan, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya maka patuhilah larangannya. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat azab siksanya (bagi orang-orang yang melanggar perintahnya)”.

Melalui cacatan sejarah juga kita dapati bagaimana kehidupan Rasulullulah S.A.W. yang sentiasa dijaga dan dipelihara oleh Allah S.W.T. bagi menjamin dakwahnya diterima oleh masyarakat. Walaupun baginda hidup dalam suasana masyarakat jahiliah yang sesat bertuhankan nafsu, namun baginda tidak terlibat dengan penyembahan berhala, minum arak, berjudi, malah tidak pernah berhibur dengan hiburan yang melalaikan. Begitu juga, baginda bersifat amanah sehingga digelar "al-Amin" serta sentiasa menjaga pergaulan dan percakapannya.

Baginda Raslulllah S.A.W. turut dididik dengan ujian bagi mematangkan fikiran dan tindakannya, di mana sejak kecil lagi baginda menjadi yatim piatu dengan kewafatan ayahanda dan bonda yang tercinta. Penjagaan baginda yang yatim piatu diambil alih oleh datuk kesayangannya Abdul Mutalib, tetapi Allah S.W.T. sekali lagi menguji baginda dengan kematian datuknya ketika baginda berusia lapan tahun dan penjagaan baginda berpindah kepada bapa saudaranya Abu Talib. Cuba kita bayangkan?. Bagaimana nabi yang bakal melaksanakan tugas dakwah Islam yang begitu besar dan berat telah diuji dengan kehilangan ahli keluarga ketika usianya yang masih kecil. Tetapi Allah maha penentu segala-galanya, di mana setiap sesuatu yang berlaku mempunyai hikmatnya yang tersendiri. Ujian kewafatan ahli keluarga tercinta telah mendidik baginda sebagai seorang yang cepat matang dan tidak terlalu bergantung kepada orang lain.

Bersempena sambutan Maulidur Rasul yang diadakan saban tahun, marilah kita sama-sama menghayati dan mencontohi ketabahan serta kesungguhan baginda dan para sahabat dalam menegakkan syiar Islam sehingga terpancar kecemerlangan dan kegemilangan Islam merentasi dunia timur dan barat.

Sebagai seorang pemimpin agong baginda Rasulullah S.A.W. mempunyai pandangan jauh dan akal fikiran yang tajam serta semangat juang yang tinggi, kekuatan rohani yang mendalam, tabah dan keberanian menempuh berbagai cabaran dan dugaan yang perlu kita contohi, sama ada di waktu penghijrahannya dari kota Makkah ke kota Madinah atau selepasnya. Oleh yang demikian, umat Islam pada hari ini hendaklah bangun membina kekuatan rohani seimbang dengan kekuatan akal dan jasmani seperti yang ditunjukkan oleh baginda Rasulullah S.A.W. dalam menyebar luas syiar Islam. Ini kerana setiap umat Islam pada hari ini adalah bertanggungjawab meninggikan dan mempertahankan agama Allah.

Di antara ciri-ciri dan sikap terpuji baginda Rasulullah S.A.W. yang perlu dicontohi :

1.Sebagai Ketua Keluarga Yang Mulia Dan Bertanggungjawab

Dalam kesibukan baginda sebagai pemimpin negara, sebagai pendakwah, ketua tentera dan pelbagai urusan lainya tetapi baginda tidak pernah melupakan soal membina keluarga yang harmoni. Bagaimana baginda menunjukkan kaedah yang berkesan untuk melahirkan sebuah rumahtangga Islam sejati yang berjaya melahirkan generasi Islam yang bertakwa. Ini bertepatan dengan firman Allah dalam surah al-Tahrim ayat 6 :

Maksudnya : “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya manusia dan batu (berhala), neraka itu dijaga dan dikawal oleh malaikat-malaikat yang keras kasar (layanannya), mereka tidak menderhaka kepada Allah dalam segala yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka pula tetap melakukan segala yang diperintahkan.”

2.Sebagai Pemimpin Yang Bijaksana

Rasulullah S.A.W. merupakan seorang pemimpin yang ikhlas dalam memperjuangkan dan menegakkan syiar Islam. Peribadi baginda yang luhur, tidak ingin dipuji, tidak mementingkan diri sendiri, tidak mementingkan kebendaan serta mengejar pangkat dalam perjuangannya. Akhirnya baginda telah berjaya membentuk peribadi, masyarakat dan negara Islam yang unggul dan terbilang.

Amat sesuai baginda menjadi contoh teladan yang paling baik. Sabda baginda :

"
اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ "

Maksudnya: "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia ".

3.Memiliki Akhlak Yang Sempurna

Baginda diutuskan bersama akhlak yang sempurna sebagai asas panduan kepada setiap lapisan masyarakat. Hal ini dinyatakan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Ahzab ayat 21 :

Maksudnya : “Demi sesungguhnya! Adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta ia pula menyebut dan memperingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang).”

Seterusnya baginda terkenal dengan ketegasan dalam perjuangan mempertahan agama Allah tanpa rasa takut dan menolak sebarang bentuk tawaran keduniaan. Seandainya sifat seumpama ini dapat kita laksanakan pastinya Islam bertambah maju dan setiasa disegani kawan mahupun lawan.

Dalam membina masyarakat yang harmoni pula baginda menggariskan beberapa panduan antaranya menanamkan sifat berkasih sayang, tolong menolong, menjaga hak kejiranan dan sebagainya demi menjaga dan membentuk masyarakat sejahtera.

Inilah antara sifat-sifat dan ketabahan baginda Rasulullah S.A.W. di dalam menegakkan agama yang benar dan diredhai Allah S.W.T. Maka bersempena sambutan Maulidur Rasul yang kita sambut pada tahun ini hendaklah dilakukan dengan hati yang benar-benar insaf dan ikhlas serta berbeza dengan cara sambutan Maulidur Rasul yang pernah dilakukan oleh Abu Lahab yang terlalu gembira menyambut kelahiran baginda dengan sanggup memerdekakan hamba kesayangannya serta menyembelih 100 ekor unta tetapi akhirnya apabila baginda menyatakan tentang kenabiannya serta dakwah Islam yang dibawa oleh baginda maka dialah orang paling keras menentang baginda sehingga kisahnya dirakamkan dalam surah al-Masad.

Oleh itu, kita perlu sedar dan insaf sambutan yang kita raikan mestilah selari dengan apa yang diucapkan, jangan kita bersungguh-sungguh memuji akhlak Rasulullah S.A.W. Tetapi akhlak remaja kita terbiar semakin hari semakin liar, tidak terkawal dan terlalu mementingkan hiburan sehingga mengabaikan tuntutan agama. Begitu juga, jangan kita hanya memuji baginda yang mengharamkan arak, judi dan riba sedangkan di sekeliling kita arak, penagihan dadah, pil khayal, ubat batuk dan segala macam yang memabukkan semakin manjadi-jadi seakan-akan tidak ada penghujungnya.
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم،

Maksudnya : Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (arab) yang ummyyin, seorang rasul (nabi Muhammad) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaannya), dan membersihkan mereka (daripada iktikad yang sesat), serta mengajarkan mereka kitab Allah (al-Quran) dan hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hokum-hukum syari’at). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata.”
( Surah al-Jumuah ayat : 2 )


Wednesday, February 17, 2010

As- Syahid Imam Hassan Al Banna Pejuang Haraki Ikhwan

Hasan al-Banna dilahirkan di Mesir pada awal abad 20 Masehi. Dalam suku pertama abad 20 Masehi ini dia telah melancarkan satu gerakan Islam yang besar, yang terkenal dengan nama “Ikhwanul Muslimin”. Hasan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin adalah dua nama yang tidak dapat dipisahkan. Begitu bertenaga sekali gerakan tersebut sehingga pengaruhnya bukan saja merebak di Mesir, tetapi telah meresapi seluruh Dunia Arab. Gerakan Ikhwan telah mencetuskan kebangkitan Islam dan roh Islam di Dunia Arab.



Jika kita betul-betul hendak menghargai segala usaha beliau dan memahami peribadinya, maka perlulah kita mengenali suasana (keadaan) dan zaman ketika beliau dilahirkan, dibesarkan dan dididik. Disamping itu, kita juga perlu mengetahui cabaran-cabaran dalaman dan antarabangsa yang sedang mengancam Mesir ketika Imam Hasan al-Banna dilahirkan.


Kelahiran dan Pendidikan Imam Hasan Al Banna.

Imam Hasan Al-Banna adalah anak sulung di dalam keluarganya. Beliau dilahirkan di Mahmoodiah pada bulan Oktober, 1906 M. Takdir Allah telah menentukan tarikh kelahirannya itu supaya dapat mengisi kekosongan akibat kematian pemimpin Muslim Mesir yang berwibawa dan tercinta iaitu Mustafa Kamal. Mahmoodiah bersuasana kedesaan dan merupakan sebuah perkampungan petani. Para penduduknya menjalani kehidupan corak lama (tradisional). Keluarga Imam Hasan Al-Banna sangat 'alim dalam ilmu Islam dan Sejarah Islam. Keluarganya juga mengamalkan cara hidup Islam. Imam Hasan Al-Banna mendapat pendidikan awal daripada bapanya sendiri.Dalam usahanya menghafal Al-Quran, bapanya telah memberi banyak bantuan. Bapanya juga memberi galakan kepadanya untuk mempelajari ilmu Islam. Tidak lama kemudian, beliau dimasukkan ke sebuah sekolah bernama Madrasah Ar-Rasyad As-Diniyyah. Di sekolah ini beliau berguru dengan seorang ulamak terpelajar yang bernama Muhammad Zahran.

Apabila pengurusan sekolah tersebut bertukar tangan dan pengasasnya iaitu Syeikh Muhammad Zahran membuat kerja lain, maka Imam Hasan Al-Banna pun berpindah ke sekolah lain yang bernama Madrasah A’adadiyah. Tahap pengajian sekolah ini adalah lebih tinggi daripada sekolah rendah. Kerajaan Mesir menghapuskan sistem pengajian sekolah A'adadiyah dan menyerahkannya kepada Kementerian Pelajaran. Kini cuma ada dua pilihan saja bagi Hasan Al-Banna. Salah satu daripada pilihan itu ialah memasuki Maahad-i-Dini; iaitu sebuah pusat.pengajian yang berhubung terus dengan Universiti Al-Azhar. Langkah ini boleh menjadikannya salah seorang ulamak Al-Azhar. Pilihan yang satu lagi ialah memasuki Pusat Latihan Guru Damanhur untuk mendapat Ijazah Perguruan. Hasan Al-Banna memilih memasuki Pusat Latihan Guru Damanhur. Selepas itu tiga tahun berkursus di situ, beliau mendapat pangkat pertama di dalam peperiksaan. Selesai sahaja kursus perguruan tersebut, beliau telah ditawarkan jawatan guru oleh Pejabat Pelajaran Daerah tetapi beliau memilih untuk menyambung pengajiannya ke peringkat yang lebih tinggi iaitu ke Universiti Kaherah (Darul Ulum). Ketika itu beliau berusia 16 tahun. Mengikut peraturan, beliau tidak layak memasuki Universiti itu (yakni tidak layak dari segi umur) tetapi peraturan itu dilonggarkan kerana bakat dan keilmuannya yang luar biasa itu. Waktu itu, Darul Ulum terkenal dengan gelaran 'Al-Azhar kecil'. Di sini kursus di beri dengan cara atau kaedah moden. Diantara kursus-kursus yang disediakan ialah Perguruan, Saikologi, Falsafah, Politik,Ilmu Kemasyarakatan, Matematik dan Ilmu Bahasa. Sebaik sahaja diterima masuk, Imam Hasan Al-Banna dan keluarganya pun berpindah ke Kaherah.



Pada bulan Julai, 1927 M., Imam Hasan Al-Banna lulus peperiksaan diplomanya dari Darul Ulum (kini terkenal dengan Universiti Kaherah) dengan mendapat pangkat pertama. Hasan Al-Banna membahagikan masanya itu ditumpukan kepada pengajiannya dan sebahagian lagi dihabiskan untuk dakwah Islamiah dan membantu bapanya membaiki jam. Setelah beliau menamatkan pengajiannya, beliau terpaksa pula membuat pilihan sama ada beliau patut mengambil biasiswa luar negeri dan meneruskan pengajiannya ke peringkat yang lebih tinggi ataupun bekerja dengan Jabatan Pelajaran sebagai seorang guru. Jika beliau bekerja dengan Jabatan Pelajaran, beliau akan mengajar kanak-kanak pada siang hari dan masa lapangnya pula akan dihabiskan untuk.mengajar ibu bapa mereka. Kemudian, Darul Ulum mengumumkan bahawa Biasiswa luar negeri tidak akan ditawarkan kepada mana-mana pelajar kerana negara Mesir sedang mengalami kekurangan guru waktu itu. Selepas pengumuman tersebut, beliau tidak ada pilihan lain kecuali menjadi guru. Apabila beliau mula bertugas sebagai guru di sekolah kerajaan, umurnya baru menjangkau dua puluh satu tahun. Beliau tinggal di Ismailiah schingga tahun 1933 M.



Tugas Hasan Al-Banna Sebagal Seorang Guru dan Peristiwa Penubuhan Al-Ikhwanul Muslimin.



Imam Hasan Al-Banna tiba di Ismailiah pada tahun 1927 untuk memulakan tugasnya sebagai seorang guru. Beliau menggunakan masa lapangnya untuk mengkaji dengan teliti corak hidup masyarakat Ismailiah agar usaha dakwahnya dapat dilancarkan dengan lebih berkesan. Imam Hasan Al-Banna berusaha untuk menjadi seorang guru yang baik dan juga seorang pendakwah yang berjaya. Beliau memulakan usaha dakwahnya di kedai-kedai makan dan kedai-kedai kopi dan bukannya di masjid. Dalam masa yang singkat sahaja, ramai telah menjadi pengikutnya. Dalam bulan Mac, 1928 M., enam orang penting telah berkumpul di rumah Imam Hasan Al-Banna. Mereka telah bersumpah untuk hidup dan mati kerana memperjuangkan Islam. Perjuangan mengejut ini telah menghasilkan satu pertubuhan yang terkenal dengan nama ‘Al-Ikhwan Muslimin’.

Batu asas pusat gerakan dan masjid Ikhwan Muslimin telah diletakkan di Ismailiah pada tahun 1929 M. Selepas itu, cawangannya dibuka di kawasan Suez dan Iskandariah. Semenjak itu, Ikhwanul Muslimin pun berkembang dengan pesat menuju ke matlamatnya.Pada bulan Oktober, 1933 M. Imam Hasan Al-Banna telah ditukarkan ke Kaherah. Tempoh enam tahun yang dihabiskan di Ismailiah merupakan titik permulaan keberkesanan gerakan Ikhwanul Muslimin pada masa depan. Ketika itu, ada satu pertubuhan dakwah di Kaherah yang terkenal dengan nama ‘Jami’atu- Tahzib-al-Islami’. Pertubuhan ini terdiri daripada belia-belia yang ikhlas terhadap Islam. Para belia ini sangat tertarik dengan kegigihan Ikhwan memperjuangkan Islam sehingga akhirnya mereka turut menjadi ahli Ikhwan agar mereka juga melibatkan diri dalam kegiatannya.


Berikutan itu, pertubuhan Jami’atu-Tahzib-al-Islami dan kesemua cawangan-cawangannya telah diserapkan ke dalam pertubuhan Ikhwanul Muslimin. Apabila Imam Hasan Al-Banna melawat Kaherah dalam tahun 1933 M., beliau dapati usaha Ikhwanul Muslimin di situ telah mencapai kemajuan yang pesat. Lantaran itu, beliau terpaksa meninggalkan jawatan gurunya dan memberi penumpuan sepenuh masa kepada Gerakan Ikhwanul Muslimin.



Perkahwinan Hasan Al Banna dan Anak-anaknya.

Hasan Al-Banna sangat disayangi oleh para penduduk Ismailiah. Kehadirannya itu telah menyirami hati mereka dengan kesedaran rohani. Haji Hussin as-Soli adalah seorang yang berperibadi mulia dan beliau sangat tertarik dengan peribadi Hasan Al-Banna serta kegiatannya. Hubungan antara Haji Hussin as-Soli dan Hasan Al-Banna begitu rapat dan kukuh sekali. Haji Hussin membantu Hasan Al-Banna dengan berbagai cara. Anak-anak lelakinya menjadi pengikut Hasan Al-Banna. Hubungan ini menjadi semakin kuat dari sehari ke sehari sehingga akhirnya Haji Hussin as-Soli mengambil Hasan Al-Banna sebagai menantunya. Latifah, anak perempuan Haji Hussin as-Soli, menjadi isteri Imam Hasan Al-Banna. Latifah juga seorang wanita yang berakhlak mulia dan bertakwa. Perkahwinan ini bertepatan dengan ayat Al-Quran yang bermaksud:

... dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki

yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik (pula).

(Surah An-Nur, ayat 26.)

Latifah sangat setia kepada suaminya dalam berbagai keadaan. Perkongsian hidup mereka telah menghasilkan enam orang anak iaitu lima orang perempuan dan seorang lelaki. Kelima orang anak perempuan mereka bernama Sana’a, Wafaa, Raja’a, Hajir dan Istisy’had. Anak perempuan yang bongsu itu dinamakan Istisy’had oleh Latifah kerana beliau dilahirkan dihari Imam Hasan Al-Banna mati syahid. dibunuh.


Imam Hasan Al-Banna mati syahid pada 15hb Februari 1949 di hadapan ibu pejabat Ikhwanul Muslimin. Hari kematiannya disambut meriah oleh Yahudi, pihak British dan pihak-pihak lain yang bermusuh dengan Islam.

TERUSKAN PERJUANGAN WAHAI SAHABAT SEKALIAN !